Qory Sandioriva Pindah Agama?

Oktober 19th, 2010 by almubarak
Kamis (14/10) dinihari, iseng-iseng saya buka stats blog ’sederhana’ ini. Ternyata kata kunci ‘Qory Sandioriva’ menjadi posting paling banyak diakses. Saya sendiri sebenarnya tak begitu terkejut, jika keyword Qory Sandioriva selalu menempati posisi atas. Soalnya, mantan putri Indonesia 2009 ‘asal’ Aceh ini beberapa bulan belakangan memang jadi buah bibir dan tak henti-hentinya ditulis media setelah hubungan dengan orang tuanya kurang harmonis. Media tentu saja senang memberitakan soal menyangkut publik figur yang menuai kontroversi.
Sejak pertengkaran dengan orang tuanya mencuat, informasi tentang kehidupan pribadi Qory pun diburu, tak terkecuali di blog ini. Beruntung saat Qory memenangkan gelar Putri Indonesia pada 10 Oktober 2009 lalu, saya sempat menulis posting ‘Menanti Qory Sandrioriva (seharusnya Sandioriva) Memakai Bikini’. Posting ini kemudian ikut terindex oleh om Google, dan bisa muncul di halaman pencarian setiap ada keyword yang berhubungan dengan ‘Qory’, meski terlempar di halaman berapa.

Tambahan kata ‘Bikini’ ternyata bisa menjadi magnet untuk membuat pengunjung mampir (meski sebentar) ke blog ini. Pengunjung rata-rata ingin mencari informasi soal aktivitas Putri Indonesia 2009 ini selama mengikuti ajang Miss Universe, apakah ikut memakai bikini atau tidak. Pastilah orang penasaran ingin melihat bentuk tubuh mahasiswi Jurusan Sastra Perancis Universitas Indonesia ini. Sialnya, blog ini tidak menyediakan foto demikian. Akibatnya, pengunjung hanya singgah sebentar saja, dan kemudian pergi lagi, tanpa meninggalkan komentar apa-apa.

Anehnya, hingga posting ini ditulis ada saja pengunjung yang mampir ke blog ini, diarahkan melalui Om Google dengan kata kunci Qory. Sehingga mau tak mau, saya musti meng-update lagi informasi tentang Qory, terutama menyangkut pertengkarannya dengan sang bunda. Apalagi, akibat pertengkaran itu, Qory dikabarkan minggat dari rumah. (Setelah memenangkan gelar Putri Indonesia, Qory mendapatkan fasilitas apartemen sebagai tempat tinggal selama setahun, mobil dan juga gaji).
Selain itu, ramai diberitakan (berdasarkan informasi dari ibunya) jika Qory sudah mulai berperilaku aneh. Putri pasang Dicky Jatmika Ustama dan Fariyawati ini diduga disantet oleh pria berinisial R, sehingga mengubah Qory, dari seorang putri yang patuh pada orang tua menjadi pembangkang.

“Qory sering diperintah oleh R. Suruh melepaskan belut dan kura-kura, dilepas di sungai yang berjalan. Suruh melepas burung pipit. Dia juga sering membakar dupa dan bersemedi,” ucap Fariyawati, Senin (6/9). Fariyawati juga memberitahukan jika putrinya sudah jarang menunaikan shalat.

Banyak pembaca (saya juga, loh) bertanya-tanya, benarkah Qory seperti diceritakan ibunya? Ada juga yang berpikiran ekstrim dengan melemparkan pertanyaan, apa Qory sudah pindah agama? Tak ada jawaban untuk itu. Hehehe, nggak ada kerjaan lain apa, ngurusin kepercayaan orang?

Oya, sebelum lupa, ada foto kiriman kawan saya (belakangan sudah banyak beredar di internet) yang memperlihatkan Qory sedang memakai baju ’super minim’. Saya lampirkan dua foto saja, lainnya cari saja di internet. Ehmmm.

TNI dan Reformasi

Oktober 6th, 2010 by almubarak
Usia Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 5 Oktober 2010, hari ini, sudah 65 tahun. Di usia yang sudah tidak muda lagi ini, institusi yang bertanggung jawab dalam bidang pertahanan dinilai masih belum maksimal menjalankan reformasi. Sejumlah pihak menuding, beberapa agenda reformasi di tubuh TNI masih menyisakan masalah.
Seperti disampaikan Haris Azhar dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS) (Kompas 4/10), ada sejumlah persoalan yang menjadi tolak ukur belum tuntasnya reformasi TNI, di antaranya undang-undang yang belum tertata, perencanaan strategis bidang pertahanan yang belum sesuai dengan semangat perubahan, implementasi kebijakan pertahanan dan keamanan yang sulit dilakukan, profesionalisme actor keamanan, institusi pengawasan yang belum maksimal, pengelolaan anggaran keamanan yang karut-marut, dan penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu yang masih terhambat.

Banyak pihak menaruh harapan, di tangan Panglima TNI baru, Laksamana Agus Suhartono, reformasi TNI yang belum tuntas tersebut berlanjut, sehingga benar-benar melahirkan TNI yang professional. Momentum HUT TNI ke-65 ini harus dijadikan sebagai sebuah gerbang menciptakan TNI yang benar-benar dicintai oleh rakyat, seperti saat perjuangan kemerdekaan.

Hal ini mutlak harus dilakukan, mengingat citra TNI belum benar-benar pulih di mata masyarakat Indonesia, setelah sejumlah kasus pelanggaran HAM, mulai sejak kasus Timor Timur dulu, Papua, hingga kasus pelanggaran HAM di Aceh yang melibatkan TNI. Karena itu, TNI harus selalu terbuka terhadap upaya penegakan hukum yang melibatkan TNI.

Memang hal ini sulit untuk dilakukan, mengingat Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI masih mengatur, setiap pelanggaran yang dilakukan TNI ditangani peradilan militer. Padahal, seperti disampaikan Haris Azhar dari KONTRAS, seharusnya peradilan militer hanya digunakan untuk tindakan indisipliner. Sementara untuk pidana umum seharusnya ditangani polisi dan peradilan umum. Untuk itu, aturan-aturan tentang TNI ini perlu diperbaharui, sehingga tidak timbul kesan bahwa anggota TNI mendapatkan perlakuan istimewa di mata hukum.

Khusus untuk Aceh, kita tentu saja berharap, TNI bisa terus mempertahankan usia perdamaian yang tergolong masih sangat muda ini, baru 5 tahun. Selain itu, TNI bersama-sama dengan Pemerintah Aceh dan juga masyarakat harus mengisi perdamaian ini dengan mendukung setiap program pemerintah.

Seperti kita tahu, di sejumlah daerah masih sering terjadi praktik illegal logging, sebagian di antaranya dituding dibeckingi oknum TNI. Hal ini bukan isapan jempol belaka. Karena ini, Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayor Jenderal Hambali Hanafiah harus lebih tegas menertibkan anak buahnya di lapangan. Jika perlu membentuk tim investigasi yang akan menelusuri keterlibatan anggota TNI di lapangan dalam praktik illegal logging.

Kasus pemukulan wartawan Harian Aceh di Simeulue, Ahmadi, oleh oknum TNI karena menulis berita soal illegal logging menjadi fakta yang tidak terbantahkan, bahwa ada sebagian oknum TNI yang terlibat dan melindungi pelaku illegal logging. Kita berharap, pimpinan TNI tidak cukup hanya sekedar memberi hukuman terhadap anak buahnya, melainkan juga memutuskan mata rantai praktik illegal logging terutama yang dilindungi oleh oknum TNI. Selamat HUT TNI ke-65, semoga menjadi tentara yang dicintai rakyat. []
—note: tulisan lainnya bisa dibaca di Aceh Pungo

Indonesia, Negara Bisa Edit

Oktober 6th, 2010 by almubarak

Saya sudah sering mendengar pernyataan yang menyebutkan bahwa Indonesia itu Negara bukan-bukan. Negara, antara ya dan bukan Negara, terutama menurut penilaian orang Aceh, Papua dan Timor-Timur yang sudah merdeka. Sehingga tak aneh jika di sini sering terjadi hal-hal yang bukan-bukan. Sebut saja, misalnya, meski sudah 65 tahun merdeka Indonesia masih menggunakan hukum peninggalan Belanda. Kemarin juga kembali terjadi hal-hal yang bukan-bukan, bahwa ternyata jabatan Jaksa Agung sudah lama ilegal, hingga keluar keputusan MK yang berakhir pada pencopotan Hendarman Supandji secara terhormat dari jabatan Jaksa Agung, setelah sebagian gugatan Yusril Ihza Mahendra dikabulkan.

Sebelumnya, sempat muncul wacana untuk memperpanjang masa jabatan presiden bukan lagi dua periode. Untuk saja wacana tersebut mentah kembali karena sebagian besar orang pintar di negeri ini tak mau terulang kembali kediktatoran Soekarno atau Soeharto. Memang sih, ada tabiat semua penguasa ingin mempertahankan kekuasaannya selama mungkin.

Karena itu, aturan atau konstitusi bisa saja diubah. Untung saja Presiden SBY tak berminat (padahal dalam hati pasti berminat, hehehe) dengan wacana itu. Coba kalau SBY berminat, pasti dia akan mengakalinya dengan pernyataan bahwa ‘hanya ayat Al Quran yang tak bisa diubah’, yang lainnya bisa diubah termasuk undang-undang dan konstitusi.

Jika itu yang terjadi, sekali lagi, Indonesia akan kembali menjadi Negara yang bisa diedit (diolah atau diperbaharui). Namun, bukan berarti Indonesia tak bisa diedit loh! Buktinya Malaysia, Negara tetangga, suka sekali usil dengan memanas-manasi suasana dan berhasil ‘mengedit’ luas wilayah Indonesia. Hasilnya, Malaysia sukses mengambil Pulau Sipadan dan Ligitan, dan juga hampir berhasil mencaplok Ambalat dan Pulau Bintan.

Soal edit wilayah, sebelumnya juga sudah dilakukan orang Timur Lorosae dengan bantuan internasional. Timor-Timur yang dicaplok dalam sebuah okupasi militer kini sudah merdeka. Orang Aceh, Papua dan Maluku hampir saja berhasil mengikuti jejak Timor-Timur dengan mengedit luas Indonesia. Untung saja keinginan itu belum terlaksana (setidaknya untuk saat ini).

Malaysia juga sukses mengedit (baca: mengganti hak cipta/paten) beberapa lagu dan warisan budaya Indonesia, seperti Reog Ponorogo, Keris, Batik corak Indonesia, lagu Rasa Sayange. Mereka juga mengklaim Tari Pendet, warisan leluhur orang Bali sebagai milik mereka.

Ingat soal edit-edit ini, saya punya pengalaman yang membuat saya tambah yakin bahwa di negeri ini semua bisa diedit (kayak software photoshop saja, hehe). Sebut saja peraturan berlalu lintas yang hingga kini kita belum tahu mana yang baku. Saya tidak tahu apakah memang sudah ada aturan tapi belum dijalankan, atau memang aturan yang ada diperbaharui secara bertahap. Yang jelas, dulu tak ada ‘kewajiban’ bagi pemilik sepeda motor memasang kaca spion (meski sejak di pabrik semua sepeda motor dan mobil sudah ada kaca spionnya). Kini, malah pengendara diwajibkan kaca spion kiri-kanan, seperti orang berdoa, tak boleh lagi cuma satu pakai satu spion.

Soal helm juga demikian. Dulu semua jenis helm bisa dipakai dan tidak apa-apa. Sekarang, helm yang dipakai harus ber-SNI (Standar Nasional Indonesia). Di sini saya curiga, jangan-jangan pihak Polri ada main mata dengan perusahaan pembuat helm. Saya tidak tahu apakah ada share keuntungan yang didapatkan Polri dengan menerapkan aturan bahwa helm harus ber-SNI dari perusahaan pembuatnya.

Aturan yang tak baku juga terjadi dalam hal menghidupkan lampu saat mengendarai sepeda motor di siang hari. Padahal, dulunya tidak ada aturan demikian.

Di Negara yang serba bisa diedit ini, semua hal (termasuk yang terkecil sekalipun) harus terus dipertanyakan. Kita mungkin masih ingat dengan pengalaman saat Soeharto masih berkuasa dulu saat anaknya Tommy Soeharto memiliki saham terbesar di perusahaan mobil Timor. Semua pejabat Negara diwajibkan menggunakan mobil Timor tersebut. Ada relasi bisnis yang cukup kuat dengan kebijakan Negara. Demikian juga halnya dengan kewajiban baju seragam untuk anak SD dan SMP yang diproduksi oleh sebuah perusahaan. Jika ditelusuri, perusahaan tersebut memiliki kedekatan dengan pemegang tampuk kekuasaan.

Ini hanya sebagai renungan saja. Bahwa hidup di negeri bisa edit ini, kita juga harus pintar-pintar. Aturan atau sebuah ketentuan bisa saja tidak berlaku jika kita tahu software editor yang mujarab: uang. Semua dijamin beres. Maka, selamat datang di Negara yang bisa edit ini. Jangan sungkan-sungkan.[]

–note: tulisan lainnya bisa dibaca di Aceh Pungo

Ada Apa dengan Terorisme?

Maret 18th, 2010 by almubarak
Perhatian kita kini tersita kasus perburuan teroris. Sejak sebulan lalu, polisi dari Densus 88 gencar memburu kelompok yang diduga teroris: mulai dari pengepungan Desa Jalin, Jantho; Lamkabue Seulimuem, hingga penyergapan dalam razia di Polsek Leupung.

Read the rest of this entry »